Marhaen Masih Duduk di Trotoar: Memahami Realitas Sosial yang Ada

Setiap tahun, kita memperingati hari kelahiran Bung Karno dengan penuh semangat, merayakan warisannya yang kaya dan inspiratif. Di tengah hiruk-pikuk perayaan tersebut, saya mendapati sosok Marhaen yang sejati, seorang tukang sol sepatu yang berjuang di pinggir jalan. Dalam dunia yang semakin digital, di mana kemewahan dan kenyamanan menjadi prioritas, ada kisah-kisah seperti Sahrial Tanjung yang mengingatkan kita akan realitas sosial yang ada di sekitar kita.
Realitas Sosial di Tengah Perayaan
Di trotoar Jalan Patrice Lumumba, Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara, pada tanggal 7 Juni 2026, tampak deretan lapak tukang sol sepatu. Di bawah payung yang sederhana, Sahrial Tanjung, seorang pria berusia 63 tahun, duduk menunggu kehadiran pelanggan. Kehidupan yang dijalaninya selama lebih dari empat dekade mengandalkan keahlian dalam menjahit sandal dan memperbaiki sepatu—pekerjaan yang mungkin kini mulai terlupakan oleh masyarakat.
Meja kayu yang sering kali menjadi tempatnya bekerja mulai lapuk, terisi dengan benang jahit berwarna hitam, cokelat, dan putih, serta beberapa pasang sandal dan sepatu yang menunggu untuk diperbaiki. Sebotol air mineral terletak di sudut meja, menjadi teman setia dalam perjuangannya. Dari tempat sederhana inilah, ia berusaha menghidupi keluarganya selama bertahun-tahun.
Setiap harinya, Sahrial menghabiskan waktu dari pukul delapan pagi hingga enam sore menunggu kedatangan pembeli. Namun, tidak ada yang ia tunggu selain pekerjaan yang terus menipis. Tahun ini, menurutnya, adalah tahun yang paling sulit bagi para pekerja seperti dirinya.
Menghadapi Tantangan Ekonomi
“Kalau dapat lima puluh ribu sehari saja sekarang sudah sulit,” keluhnya lirih, menyerukan beban berat yang telah lama ia pikul. Matanya yang mulai berkaca-kaca menunjukkan betapa dalamnya kesedihan yang ia rasakan saat harus berbicara tentang pendapatannya saat ini.
Sahrial adalah seorang ayah dari tiga anak dan kakek dari dua belas cucu, yang semuanya menunggu di rumah. Namun, hari itu, hingga sore menjelang, satu-satunya pelanggan yang datang hanya memberinya upah sepuluh ribu rupiah—jumlah yang mungkin tak ada artinya bagi banyak orang, tetapi baginya, itu adalah hasil dari menunggu seharian penuh.
Di era perdagangan digital yang semakin mendominasi, masyarakat lebih cenderung membeli barang baru ketimbang memperbaiki yang lama. Sandal yang rusak lebih mudah diganti, sementara sepatu yang robek sering kali dibuang. Layanan daring yang menawarkan kemudahan dalam berbelanja semakin menggerus ruang bagi para tukang sol sepatu.
Perubahan dan Dampaknya
Untuk tetap mendapatkan pelanggan, Sahrial terpaksa menurunkan tarif jahitnya, dari yang awalnya antara lima belas hingga dua puluh ribu rupiah menjadi sepuluh ribu rupiah. Ironisnya, sementara pendapatannya menurun, biaya hidup terus meningkat. Harga bahan-bahan yang dibutuhkan seperti benang dan lem terus melambung—benang jahit yang dulunya seharga tujuh ribu rupiah kini menjadi dua belas ribu, dan lem yang sebelumnya tujuh ribu rupiah kini mencapai sepuluh ribu.
Realitas sosial yang dihadapi Sahrial adalah gambaran nyata dari banyak pekerja lain yang terjebak dalam lingkaran kemiskinan. Saat kebutuhan dapur mendesak, ia memilih makanan sederhana, seperti mie kuah dan lontong yang murah, demi bisa tetap bertahan hidup. Di titik inilah, saya teringat kepada sosok Bung Karno.
Marhaenisme dan Kenyataan Sosial
Konsep Marhaenisme yang diperkenalkan Bung Karno puluhan tahun lalu terlahir dari interaksinya dengan seorang petani kecil bernama Marhaen. Marhaen bukanlah seorang pengemis, melainkan sosok pekerja keras yang bergantung pada alat dan tenaga sendiri untuk bertahan hidup, meski terjebak dalam kondisi yang mempersempit akses kesejahteraan.
Sahrial Tanjung adalah representasi dari Marhaen tersebut, dengan meja kayunya sebagai alat produksinya dan benang serta lem sebagai modalnya. Keahlian yang dimilikinya seharusnya menjadi aset berharga, namun semua itu seolah tak cukup untuk memberikan kehidupan yang layak bagi dirinya dan keluarganya.
Ironisnya, saat kita memperingati Bung Karno dengan semangat yang membara—mengutip pidatonya dan mengulang slogan JAS MERAH—sering kali kita lupa untuk melihat realitas yang dihadapi para Marhaen di sekitar kita. Mereka tersebar di pasar-pasar tradisional, di sawah, di perahu nelayan, dan di trotoar kota. Mereka adalah individu yang bekerja keras dari pagi hingga malam, tetapi tetap dihantui rasa cemas tentang bagaimana cara memenuhi kebutuhan makan mereka esok hari.
Menanti Peluang di Tengah Kesulitan
Menjelang pukul 16.30 WIB, langit mulai mendung dan gerimis perlahan membasahi trotoar Jalan Patrice Lumumba. Kendaraan terus berlalu-lalang dan orang-orang tetap sibuk dengan urusannya masing-masing. Namun, Sahrial tetap duduk, menunggu dengan kesabaran yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang telah lama berhadapan dengan kerasnya kehidupan.
Selama ini, dari hasil kerja kerasnya sejak tahun 1980, ia mampu membangun rumah sederhana pada tahun 2014. Rumah itu memiliki ukuran tiga setengah meter lebar dan delapan meter panjang—sebuah monumen dari kerja keras dan ketekunan seorang Marhaen yang tak pernah menyerah.
Refleksi di Hari Peringatan
Ketika bangsa ini kembali memperingati hari lahir Bung Karno, kita seharusnya bertanya bukan seberapa banyak kutipan yang kita ingat dari beliau, tetapi apakah kita masih mampu melihat sosok-sosok seperti Sahrial Tanjung. Selama masih ada tukang sol sepatu yang pulang membawa sepuluh ribu rupiah setelah seharian bekerja, selama masih ada rakyat kecil yang harus menahan air mata demi mempertahankan hidup, maka Marhaenisme akan tetap relevan.
Ia masih hidup, masih bekerja, dan masih bertahan. Dan pada sore itu, Sahrial masih duduk di trotoar, menunggu pelanggan, menanti harapan, dan menunggu keadilan yang belum sepenuhnya terwujud. Di mata sebagian orang, Sahrial Tanjung mungkin hanya terlihat sebagai seorang tukang sol sepatu tua di pinggir jalan. Namun, bagi Bung Karno, ia adalah wajah sejati bangsa ini.
Kemerdekaan tidak dapat diukur dari seberapa tinggi gedung-gedung yang berdiri, ramainya pasar digital, atau banyaknya slogan yang kita ucapkan. Kemerdekaan sejati terletak pada satu hal yang fundamental: apakah rakyat kecil yang bekerja dengan tangannya sendiri dapat hidup layak dari hasil kerjanya. Dan selama pertanyaan ini belum terjawab, Marhaen masih duduk di trotoar, menanti keadilan yang pantas ia terima.